SELAMAT DATANG PEMIMPINKU

Oleh: Didik Purwanto – Wakil Sekretaris PCNU Tuban
(Magister Ilmu Administrasi Publik)        

Setiap Pemimpin ada masanya dan setiap masa  ada Pemimpinnya.Ungkapan tersebut sering terdengar dipelosok-pelosok surau,  dibalik dinding-dinding majelis taklim,pengajian rutin tahlilan dan yasinan.Semua persoalan kehidupan diungkap dengan gaya sederhana oleh para kyai-kyai desa dengan sopan dan santun dalam membedah setiap pasal demi pasal yang mereka buka dari kitab-kitab kuning peninggalan para guru-guru besar yang sangat diyakini kebenarannya.
          Berangkat dari kehadiran pemimpin  yang didambakan oleh masyarakat,ada contoh seorang pemuda bernama Zulqarnain, atau ditulis Zulkarnain yang berarti bertanduk dua.Zulkarnain adalah sebuah gelar yang mengacu pada hewan sapi yang mempunyai alat beladiri berupa tanduk.se dangkan nama aslinya adalah Iskandar,atau dalam ungkapan barat bernama Alexander.Kisah keberhasilannya menyatukan dunia barat dan timur dimuat dalam Al Qur’an surat Al Kahfi atau surat ke 18.
          Zulkarnain,Alexander the Great,Alexander Agung yang hidup 356 – 326 sebelum masehi,salah seorang maharaja Macedonia,Yunani Kuno.Ayahandanya Raja Philip putra Amytas II.Pada usia 13 tahun ,selama dua tahun berguru kepada Aristoteles (384 – 326  SM),seorang filosof kenamaan dan dikenal hingga kini.Setelah itu diangkat sebagai Putra mahkota.Hanya empat tahun magang pada usia 19 tahun sudah dilantik sebagai Raja (336 SM).Kisah Zukarnaen melegenda di dunia dan selalu dikaitkan dengan kebesaran kekuasaan dan kebijaksanaan.Iskandar Zulkarnain memang pribadi yang bisa dijadikan uswah (contoh) bagi umat manusia.Usianya yang muda dengan kekuasaan yang besar dan bekal ilmu yang cukup,mendukung ambisinya yang kuat untuk mengembangkan keluhuran nilai kemanusiaan.Dalam masa pemerintahannya yang hanya sepuluh tahun,Iskandar mengembangkan daerah kekuasaan dari barat (pantai samudera Atlantik) Sampai ke timur (tepi samudera Pasifik).
          Kendati menaklukkan negara lain,Zulkarnain tidak serta merta menghancurkannya sebagaimana umumnya bangsa penjajah.Tapi dia malah menjalin kerjasama untuk memperbaikinya. Alkisah saat berhasil mengalahkan Raja Persia Darius III (331 SM),Iskandar Zulkarnain tidak menghan curkan peradaban Persia (iran sekarang).Ia bahkan menggunakan politik Akulturasi,yaitu memper temukan budaya barat dan timur.Bersama itu menyampaikan pesan agar masyarakat  hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa.Di Persia dia mengawini putri raja Darius III, dan mengambil banyak pengawal dari tentara asli Persia.
          Sukses Alexander dalam masa kerja 10 tahun ini,terbukti periode ideal setiap pemimpin menduduki kursi kekuasaannya.Rasullulah SAW sendiri masa efektif kerasulannya di madinah ternyata juga sepuluh tahun.Kursi Presiden RI juga sepuluh tahun,Presiden AS juga diberi kesempatan hanya dua kali masa jabatan.Menjadi pemimpin,Presiden,Gubernur,Bupati,Walikota yang melebihi 10 tahun atau dua periode malah akan menimbukan ketidakbaikan (mafsadah) bagi masyarakatnya.Bahkan kekuasaan yang terlalu lama cenderung korup dan otoriter.


INDAHNYA   DEMOKRASI
          Andaikata setiap pemimpin di wilayah Republik Indonesia mampu mencontoh Alexander Agung yang mampu menyatukan kekuasaan dengan tanpa ingin melanggengkan kekuasaannya, maka alangkah indahnya demokrasi ini.Rotasi dan kaderisasi kepemimpinan bisa berjalan sesuai dengan regulasi dan keinginan masyarakat.Dari sini juga membuktikan bahwa budaya luhur tiap bangsa bersifat universal,tidak mengenal batas wilayah dan tenggang waktu.Serta masyarakat (baca rakyat) sangat berdaulat dalam memilih pemimpinnya.Regulasi yang jelas memang sangat dibutuhkan oleh negara kita dalam pemilihan kepala daerah (baca Bupati),karena Undang-undang yang Multitafsir menjadikan masyarakat dibuat bingung karenanya.Kedepan sudah saatnya ada revisi-revisi yang jelas dalam pembuatan Undang-undang Pemilukada.
          Demokrasi memang membutuhkan pengorbanan yang besar,baik tenaga,pikiran,perasaan,har ta benda,maupun nyawa dipertaruhkan guna mencapai sebuah harapan yang dicita – citakan.Lalu sampai dimanakah demokrasi bermuara? Jawabannya ada pada masyarakat  yang berdaulat.Masya rakatlah yang mempunyai kedaulatan,baik dalam memilih pemimpin maupun dalam menentukan sebuah keputusan politik.
          Kabupaten Tuban dengan 20 kecamatan dan terdiri atas 328 desa/kelurahan, membuktikan sebagai Kabupaten yang mampu menjadi contoh berlangsungnya pesta demokrasi yang aman,tertib,terkendali dan sukses.Semua ini berjalan karena kesadaran masyarakat kabupaten Tuban dalam menentukan pilihan yang terbaik bagi daerahnya.Terlepas dari banyaknya calon yang maju dalam Pilkada,hasil final dari Pilkada Tuban mampu menjungkirbalikkan asumsi yang selama ini berkembang,bahwa pilkada Tuban rawan konflik dan cenderung berakhir anarkhis.
          Asumsi tersebut sah-sah saja sebagai bentuk kesiap-siagaan,utamanya aparat keamanan.Mengingat Pilkada 2006 berakhir dengan kerusuhan massa, karena dipicu dengan tidak dikeluarkannya DPT oleh KPUD.Namun dalam Pilkada 2011 hasil akhirnya, masyarakatlah yang menang,demokrasi memang indah manakala kita dewasa dalam menerapkannya.Tidak ada intrik-intrik kotor,semua berjalan dengan tatanan yang telah diatur mekanismenya oleh penyelenggara Pilkada (KPUD TUBAN) serta pengamanan yang superketat oleh Kepolisian Negara.Dan yang membanggakan ternyata masyarakat  Kabupaten Tuban mampu memilih pemimpinnya, walaupun mereka ada yang tinggal di lereng-lereng pegunungan kendeng, dan di  daerah pesisir utara pulau jawa.Ini bukti bahwa masyarakat Kabupaten Tuban sudah dewasa dalam berdemokrasi,tidak mudah diombang ambingkan dengan berbagai tekanan,baik tekanan yang bersifat masif dan terstruktur yang dilakukan oleh birokrasi lokal,maupun oleh propaganda murahan dari para petualang – petualang politik (0portunis).
          Masyarakat Kabupaten Tuban menaruh hormat kepada para calon Bupati dan Wabup Tuban yang kalah dalam Pilkada tahun 2011,mereka dengan jiwa besar mendatangi H.Fathul Huda dan memberikan ucapan selamat atas kemenangannya.Demikian juga H.Fathul Huda menyambutnya dengan santun dan penuh kekeluargaan. Alangkah indahnya Demokrasi ini manakala semua berakhir dengan heppy ending.
        Pembelajaran politik yang demikian indah dari para pemimpin inilah yang harus terus dikede  pankan dan ditumbuhkembangkan sebagai pembelajaran politik yang bermoral dan beretika.sehingga masyarakat mampu mencontoh sikap dan perilaku politik dari pemimpinnya. Pen dek kata yang menang tidak bertepuk dada dan yang kalah tidak merasa hilang kehormatannya.
 SECERCAH HARAPAN 
          Munculnya pemimpin dalam sebuah peradapan manusia,tentunya membawa dampak pada rasa keinginan masyarakat untuk berubah.Tak terkecuali masyarakat kabupaten Tuban.Baik berubah dalam sekala mikro maupun makro.Dan perubahan itu dapat terjadi apabila didasari oleh: Kemauan dan tekat masyarakat (niat), serta politikal will pemimpin tersebut.Kalau salah satu saja dari komponen itu tidak sinergis maka akan timbul resisten(hambatan).
          Namun angin perubahan sangat kencang di bumi Ronggolawe ini,terbukti hasil pilkada yang menembus angka 55,18 % atas kemenangan pasangan HUDANOOR, membuktikan bahwa masyarakat Tuban menginginkan perubahan.Nah keinginan berubah ini harus ditangkap dengan arif dan bijaksana oleh pasangan HUDANOOR guna membuka harapan bagi masyarakat Tuban.Harapan masyarakat Tuban sebenarnya sangat sederhana,mereka menginginkan sejahtera lahir dan batin.Kalaupun selama ini mereka sudah disejahterakan oleh Bupati Tuban Heany Relawati dengan sarana infrastruktur berupa jalan yang mulus,gedung-gedung pemerintahan dan sekolah yang megah,namun masyarakat masih membutuhkan kesejahteraan yang riil (nyata) berupa mudah mencari lapangan pekerjaan di daerahnya sendiri,kalaupun sakit dijamin kesehatannya, dan dimudahkan dalam proses pendidikan bagi anak-anak bangsa(pendidikan murah).
          Keinginan masyarakat tersebut tentunya merupakan tantangan yang harus dilaksanakan oleh pasangan HUDANOOR dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.Untuk mewujudkan Tujuan tersebut,tentunya diperlukan perangkat – perangkat pendukung seperti Peraturan Daerah (Perda). Keberadaan Perda sangat dibutuhkan sebagai Payung Hukum dalam pelaksanaan semua aktivitas pembangunan Kabupaten Tuban.Selain juga Undang –Undang,Peraturan Pemerintah dan segala Produk Hukum yang mengikat dalam implementasi seluruh kebijakan pemerintah Kabupaten Tuban.
          Harapan ini ada dipundak pemimpin Tuban,H.Fathul Huda dan H.Noor Nahar Hussein,dengan latar belakang yang saling melengkapi, dua pemimpin ini menjadi tumpuan hampir sejuta penduduk kabupaten Tuban.Tidak sekedar menjadi Bupati dan Wakil Bupati Tuban namun keberadaan beliau diharapkan mampu menjadi simbol sekaligus icon perubahan.Dan ini perlu kerja keras pemimpin Tuban yang didukung oleh Aparatur birokrasi yang Profesional, bersih, jujur,loyal,berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya.Selain itu birokrasi tidak boleh terkontaminasi oleh budaya korupsi,kolusi,nepotisme,serta tidak dalam posisi sebagai corong partai politik tertentu.Semua itu penting guna menjaga kewibawaan pemerintah,sebagai abdi negara dan abdi masyarakat.
          Akhirnya dengan perasaan terbuka mari kita sambut kedatangan Pasangan HUDANOOR sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tuban periode 2011 – 2016  sebagai pemimpin rakyat,pemimpin para PKL,tukang becak,tukang kayu,tukang  batu,petani,nelayan,pedagang,sopir,montir,seniman, budayawan,olahragawan,guru-guru TPQ, dan seluruh kawulo alit menantikan kiprah perjuangan dua pemimpin Tuban ini dalam palagan pengabdian yang akan banyak menguras pikiran,tenaga dan pengorbanan.Semoga Kabupaten Tuban semakin bersinar. Selamat berjuang !

| | Read More »

TANTANGAN NU PASCA PILKADA TUBAN


Oleh : Didik Purwanto
Posisi Idiologis
Sejak kelahirannya, NU adalah organisasi garis depan dalam menegakkan panji-panji Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah. Meskipun kelahirannya ditandai oleh kegelisahan para ulama waktu itu dalam menangkap konteks semangat zamannya, namun ini adalah titik yang sangat penting bagi hadirnya organisasi yang mewadahi tradisi keberagaman yang eternal, sholihun likulli zaman. Dibawah payung ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah, NU menempati posisi yang strategis dalam kehidupan berbangsa. Peran dan kontribusinya sangat diharapkan dalam setiap problem kemasyarakatan. Untuk itu NU telah menempatkan rumusan Mabadi Khoiro Ummah sebagai prinsip-prinsip dalam pengembangan masyarakat, sehingga kepedulian dan keberpihakan NU untuk terus melakukan pemberdayaan masyarakat telah memiliki kerangka idiologis yang jelas. Prinsip ini, dikenal juga sebagai Mabadi al-Khomsah, menjadi landasan bagi segenap warga NU, terutama para pemimpin dan pengurus NU, agar senantiasa bekerja dan berkhidmah sesuai dengan tuntunan as-salafu ash-sholih, yaitu shidq (jujur dan senantiasa menjunjung tinggi kebeneran), amanah (responbilitas dan akuntabilitas yang paripurna), ta’awun (pengembangan sikap solidaritas dan kepedulian sosial), ‘adalah (bertindak adil dalam segenap langkah) dan  istiqomah (konsisten dan teguh dalam berkhidmah).
Mabadi Khoiro Ummah dengan demikian hendak membawa warga NU sebagai umat terbaik yang secara aktif mewujudkan kemaslahatan (jalb al-masahalih) sekaligus menyeru kepada kebaikan (al-amru bi al-ma’ruf) serta menolak kerusakan dan keburukan (dar’u al-mafasid) yang dibarengi dengan mencegah kemunkaran (an-nahyu ‘an al-munkar). Akar doktrinal-konseptual seperti inilah yang menjadi orientasi nilai-nilai bagi setiap upaya transformatif yang digeluti NU untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat. Pada titik ini NU menegaskan dirinya secara total sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah (organisasi kemasyarakatan dan keagamaan).
Sejak hadhratus syekh KH Hasyim Asy’ari menancapkan prinsip-prinsip dasar dalam Muqaddimah Qonun Asasi hingga terumuskannya Khittah Nahdlatul Ulama pada Muktamar NU XXVII di Asembagus Situbondo, tergambar dengan sangat jelas apa dan bagaimana Nahdlatul Ulama bergerak dan berjuang sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah. Dengan singkat dan padat KH Ahmad Shiddiq merangkumnya dalam kalimat “Nahdlatul Ulama sejak semula meyakini bahwa persatuan dan kesatuan para ulama dan pengikutnya, masalah pendidikan, da’wah islamiyah, kegiatan sosial serta perekonomian adalah masalah yang tidak bisa dipisahkan untuk mengubah masyarakat yang terbelakang, bodoh dan miskin menjadi masyarakat yang maju, sejahtera dan berakhlaqul karimah”. Dengan demikian, sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah, NU memiliki dua fungsi primer: yaitu pengembangan mutu keberagaman dan pengembangan mutu kesejahteraan masyarakat.

Posisi Sosial Politik
Keputusan NU untuk kembali menengok dan menegaskan aktualisasi Khittah 1926 dalam Muktamarnya ke-27 di Situbondo hingga kini masih dipandang banyak kalangan sangat strategis. Secara pragmatis keputusan ini dilihat sebagai pengunduran diri NU dari wilayah politik praktis dan kembali menekuni bidang dakwah dan pendidikan yang telah sekian lama terabaikan. NU pasca Khittah muncul sebagai fenomena unik dalam percaturan politik Indonesia; bisa dikatakan ini adalah keberhasilan sebuah organisasi keagamaan untuk menduduki kembali posisinya yang strategis justru ketika organisasi ini telah melepaskan baju politik praktisnya.
Di tingkat lokal Kabupaten Tuban, NU sesungguhnya berada dalam posisi yang sangat menentukan dalam melakukan pemberdayaan masyarakat, mengingat baik secara sosiologis maupun kultural bahkan secara politis persenyawaan NU dengan masyarakat Tuban telah begitu kuat dan tak terurai. Terlebih momentum otonomi daerah yang memberi kewenangan dan ruang publik yang luas bagi masyarakat Tuban untuk mengatur dirinya sendiri semakin memperteguh peran dan kepeloporan NU Tuban sebagai organisasi masyarakat sipil yang semestinya selalu berada dalam garda depan pembangunan masyarakat Kabupaten Tuban. Karenanya, kehadiran organisasi yang kuat dan berdaya dalam tubuh NU merupakan kebutuhan mendasar NU Tuban ke depan.
Hal di atas menunjukkan bahwa gerak perjuangan NU adalah pemberdayaan masyarkat dalam segala aspeknya yang harus ditopang oleh segenap kemampuan dan sumber daya yang dimiliki oleh jam’iyyah. Karena itu pula, seluruh level kepengurusan dalam NU harus benar-benar berada dalam satu barisan yang kuat dalam rangka pemberdayaan masyarakat ini. Semua eksponen Nahdlatul Ulama tidak mempunyai pilihan lain kecuali bekerja dan berjuang untuk keberdayaan masyarakat. Yang dibutuhkan NU adalah pengkondisian organisasi agar siap bekerja dan membangun dirinya demi kemaslahatan NU sendiri, agama, bangsa, dan negara. Dan itu berarti NU harus terus melakukan penataan organisasi dan penguatan kelembagaan secara manajerial, terarah dan terpadu. Tanpa melakukan penataan dan penguatan manajemen jam’iyyah, NU sulit diharapkan dapat menjalankan fungsi pengembangan mutu keberagamaan dan mutu kesejahteraan masyarakat.

Arah Kebijakan
Dalam sebuah organisasi sebesar NU, maka sangat dibutuhkan arah kebijakan yang jelas. Sehingga roda organisasi dapat terarah dan menuju sasaran sesuai dengan Visi dan Misi organisasi tersebut.
Sesuai dengan keputusan Muktamar ke-31 Nahdlatul Ulama di Boyolali Jawa Tengah, Visi organisasi NU adalah pewujudan tatanan masyarakat yang berkeadilan, demokratis dan sejahtera atas dasar ajaran Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Visi demikian mengimplikasikan bahwa sumbangan penting yang dapat diberikan NU dalam pewujudan tatanan masyarakat yang dimaksud di atas adalah konsistensi (istiqamah) NU untuk tetap melakukan pemberdayaan masyarakat dalam segala aspek kehidupan, sejak berdirinya hingga kapanpun.
Untuk mewujudkan visi itu, maka Muktamar menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama mengemban Misi (bi’tsah) atau tugas suci, yang memiliki dua sisi: Pertama, pada satu sisi, mengupayakan sistem perundangan-undangan dan mempengaruhi kebijakan yang menjamin dan demokratis; Kedua, pada sisi lain, melakukan pemberdayaan masyarakat
NU Tuban tentunya harus faham akan tantangan organisasi tersebut, sebagaimana juga mampu mengevaluasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Hambatan ( Analisis SWOT ) yang dihadapi NU Cabang Tuban. Sehingga pada akhirnya nanti diharapkan cita-cita dari NU dapat tercapai
Kepemimpinan yang telah diemban oleh H.Fathul Huda selama  memimpin NU Tuban telah metakkan dasar-dasar perjuangan yang jelas dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan pendidikan, antara lain; peternakan sapi perah dan budidaya ketela pohon.selain itu pendirian RSNU dan STIKES NU menjadikan NU Tuban menjadi percontohan cabang-cabang NU se Indonesia.Peran diatas harus tetap terjaga dan terus dikembangkan oleh penerus-penerus NU Tuban.Demikian juga kaderisasi di tubuh jam’iyah NU Tuban diharapkan akan terus berjalan secara simultan mulai dari bawah (banom-banom) sampai puncak pengabdian di Nahdlatul Ulama.                    


PASCA PILKADA
Terpilihnya H.Fathul Huda sebagai Bupati Tuban adalah sebuah kebanggaan bagi jam”iyyah Nahdlatul Ulama dan warganya.Namun warga NU Tuban tidak boleh Euforia yang berlebihan karena tantangan yang harus dihadapi pasangan HUDANOOR dalam menjalankan pemerintahan kabupaten Tuban sangatlah Kompleks.Sehingga pembagian tugas,wewenang dan tanggungjawab mutlak diperlukan dalam kepemimpinannya,jangan sampai kesalahan-kesalahan yang lalu terulang kembali.
Prioritas-prioritas program yang telah dicanangkan dalam kampanye selama ini harus di break down dalam sebuah RENSTRA (rencana strategis) pembangunan.sehingga harapan rakyat Tuban yang menginginkan perubahan dapat segera terlaksana secara terencana dan terukur yang disesuaikan dengan APBD TUBAN .Harapan rakyat tersebut harus dibarengi juga dengan aparatur birokrasi yang bersih,jujur, dan professional (clean government) sehingga tidak terdengar lagi birokrasi yang berjiwa,korup, oportunis dan sektarian.Pendek kata slogan “MAJU UNTUK MELAYANI MASYARAKAT” adalah cermin dan tekat bagi seluruh birokrasi di Kabupaten Tuban.
Akhirnya dipundak H.Fathul Huda harapan rakyat Tuban ditambatkan,warga NU dan Rakyat Tuban yang telah memberikan kepercayaan penuh kepada pasangan HUDANOOR menantikan kiprah beliau yang lebih luas dalam pembangunan Kabupaten Tuban, guna mensejahterakan Rakyat Tuban menuju BALDATUN THOYYIBATUN  WA  ROBBUN  GHOFUR....semoga..



Penulis:
Wakil Sekretaris PC NU Tuban

| | Read More »

Pejabat Merapat ke Hudanoor


Sebagian kepala satuan kerja perangkat (SKPD) Pemkab Tuban mulai “memperkenalkan’ diri kepada calon Bupati-Wabup terpilih Pilkada 2011. Mereka rame-rame sowan ke rumah Fathul Huda dan Noor Nahar, pasangan calon Bupati – Wabup, yang ditetapkan KPUK Tuban sebagai pemenang Pilkada.
Plt Sekkab Tuban Heri Sisworo yang memimpin rombongan asisten, kepala kantor, kepala dinas, kepala bagian, dan kepala seksi untuk sowan ke rumah Huda dan Noor Nahar kemarin (11/3) siang. Sorenya, giliran seluruh camat yang merapat ke rumah cabup-cawabup terpilih tersebut.
Ketika menerima pejabat-pejabat tersebut Huda berusaha mencairkan suasana dengan joke-joke segar. Ketika berjabat dengan Heri Sisworo misalnya. Kalimat pertama yang diucapkan adalah mengingatkan bahwa dirinya dan Heri sama-sama berasal dari Kecamatan Montong.
Selain itu, Huda sempat menyinggung fasilitas khusus yang pernah dinikmatinya untuk mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP). Dia mengurus KTP saya sehari jadi, warga lainnya juga harus begitu,’ katanya kepada sulistiyadi, mantan Camat Tuban.
Heri Sisworo mengatakan, kedatangan dirinya dan seluruh kepala SKPD tersebut untuk silaturrahmi, “ini menyangkut humanis, hubungan manusia dengan manusia,” kata dia saat dikonfirmasi ketika meninggalkan rumah Huda.
Mengapa agenda silaturrahmi tersebut sebelum pelantikan? Heri mengatakan, hal itu terkait penyesuaian agenda Open House Bupati dan Wabup terpilih berakhir kemarin.

Ditetapkan Bupati Wabup Tuban
Sesuai, agenda KPUK Tuban tadi malam menetapkan pasangan Fathul Huda – Noor Nahar Hussein (Hudanoor) sebagai bupati – wabup terpilih pada Pilkada Tuban 2011.ketika berita ini ditulis sekitar pukul 19.00, komisioner KPUK setempat baru memulai rapat pleno penetapan pasangan calon.
Rapat tersebut diperkirakan berlangsung satu ja. Ketika KPUK Tuban Sumito Karmani yang dikonfirmasi sekitar 30 menit sebelum pleno mengatakan, rapat pleno itu dipastikan menghasilkan penetapan pasangan terpilih. Penetapan psangan terpilih tersebut berbentuk surat keputusan KPUK Tuban.
Menurut dia, dasar rapat pleno penetapan pasangan terpilih tak hanya surat keterangan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) dari Mahkamah Konstitusi (MK) bernomor 034/PAN.MK/III/2011 tentang keterangan tidak ada perkara Pilkada Tuban 2011 yang ditandatangani panitera MK Kasianur Sidauruk. Dasar penetapan lainnya, hasil penetapan rekapitulasi penghitungan suara. Meurut Mito, panggilan akrab Sumito Karmani, setelah pasangan calon erpilih ditetapkan tadi malam, hari ini (12/3) surat penetapan tersebut diserahkan ke DPRD Tuban untuk diajukan kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri) melalui Gubernur. “Surat ini untuk memproses pelantikan bupati wabup terpilih,” tutur mantan kepala Inspektorat Tuban ini.
Yayuk Dwi Agus Sulistiyo, salah stu dari tiga anggota tim KPUK Tuban yang berangkat ke MK, mengatakan, surat keterangan PHPU diterimanya kemarin sekitar pukul 09.30. menurut dia, setelah surat tersebut diterima, tim KPUK yang menjemput surat itu pulang.
Seperti diberitakan, Hudanoor dinyatakan sebagai pasangan calon pengumpul suara terbanyak, 374.147 suarat atau 55,18 persen. Disusul, Kristiawan – Haeny Relawati Rini Widiastuti (Krishaen) meraih 207.894 suara. Setiadjit – Bambang Suhariyanto (Sehat) mendulang 44.854 suara, dan M.Anwar – Tulus Setyo Utomo (Mulyo) mendapatkan 39.504 suara. Kemudian M.Chamim Amir – Ashadi Suprapto (Muatoh) mengumpulkan 6.744 suara dan Bambang Lukmantono – Edi Toyibi (Bangkit) meraih 4.928 suara (ds/yan)
RADAR BOJONEGORO, 12 Maret 2011
Foto : Dwi Setiawan Radar

| | Read More »

Chamim Akhirnya Menyusul “Merapat” ke Hudanoor


Cabup dari jalur independen M.Chamim Amir membuktikan sikap legawanya atas kemenangan telak pasangan Fathul Huda dan Noor Nahar Hussein (Hudanoor) dalam Pilkada Tuban 2011.
Itu ditunjukkan Kamis (10/3) malam lalu dengan datang ke rumah Huda dan Noor Nahar. Ketika mendatangi rumah kedua pasangan calon bernomor urut empat tersebut, cawabupnya Ashadi Suprapto tidak terlihat mendampingi. Kedatangan Cabup bernomo urut satu ke rumah Huda dan Noor Nahar tersebut lebih cepat dari janjinya kepada wartawan Koran ini bahwa dirinya akan datang setelah Hudanoor ditetapkan sebagai pemenang. Ketika Chamim datang, KPUK tengah dalam proses mengambil surat keterangan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK) untuk penetapan esok harinya.
Chamim adalah kontestan pilkada ke enam yang mendatangi rumah Huda maupun Noor Nahar. Sebelumnya, langkah silaturrahmi juga dilakukan pasangan Bambang Lukmantono – Edi Toyibi (Bangkit), M.Anwar-Tulus Setyo Utomo (Mulyo), dan Cawabup Bambang Suhariyanto (Sehat). Meski empat pasangan lain belum “merapat”, namun mereka secara langsung maupun diwakili tim pemenangan pasangan calonnya sudah mengakui dan legawa atas kemenangan Hudanoor.
Miyadi, ketua tim pemenangan calon Hudanoor mengatakan, ketika bertemu dengan Huda, Chamim meminta Bupati terpilih untuk menjalankan amanah rakyat. “Setelah pilkada, dia akan beraktivitas pada advokasi,” tandas dia mengutip pernyataan Chamim. (ds/wid)
RADAR BOJONEGORO, Sabtu 12 Maret 2011

| | Read More »

Open House Dibatasi Hingga Jumat

Pasangan Fathul Huda – Noor Nahar Hussein (Hudanoor) membatasi agenda open house hingga Jumat (11/3) mendatang. Miyadi, ketua tim pemenangan pasangan calon bernomor urut empat ini mengatakan, pertimbangan untuk membatasi open house tersebut terkait dengan agenda Hudanoor untuk menyiapkan program kerja seratus hari memimpin Tuban. Sampai Sabtu (5/3) malam, simpatisan dan pendukung yang datang dari berbagai daeah terus berjubel. Mereka tidak hanya memenuhi ruang tamu rumah Huda. Namun, juga teras, halaman, trotoar jalan, hingga pelataran garasi, dan garasi. (ds/wid)
Sumber : RADAR BOJONEGORO
7 Maret 2011

| | Read More »

Mengintip Dapur Hudanoor, Pasca Kemenangan dalam Pilkada Tuban

Setelah mendulang suara terbanyak, pendukung dan simpatisan pasangan calon Fathul Huda – Noor Nahar Hussein (Hudanoor) “berpesta”. Setiap hari, rumah Huda dan Noor Nahar didatangi sedikitnya 5 ribu orang untuk mengucapkan selamat. (DWI SETIAYAWAN, Tuban)
SIMPATISAN dan pendukung pasangan bernomor urut empat ini ber-euforia. Setiap hari, mereka terus mengalur ke rumah Huda dan Noor Nahar. Mereka dari berbagai pelosok daerah di Tuban tersebut beramai-ramai naik pikup dan truk. Sebagian mobil angkutan barang tersebut disewa dengan urunan. “Kulo kaliyan konco-konco urunan Rp.10rb, Red),” kata Sulkan, simpatisan Hudanoor dari Singgahan.
Sebagian simpatisan dan pendukung tersebut naik mobil dan motor. Menurut pantauan wartawan Koran ini, Jumat (5/3) malam adalah salah satu puncak mobilitas massa dalam jumlah besar. Pada malam keempat Huda menggelar open house, sedikinya 700 orang mendatangi rumah Huda di Jalan Teukur Umar II/51, Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban. Dengan jumlah tersebut hanya sebagian yang bisa masuk ruang tamu, teras, dan halaman rumah Huda. Selebihnya di luar pagar. Duduk bersimpuh di trotoar dan jalan. Juga, di garasi depan rumah cabup pasangan Noor Nahar Hussein ini. Banjirnya massa pendukung dan simpatisan juga terjadi di rumah Noor Nahar.
Karena jumlah massa yang datang begitu banyak dan nyaris serentak, dapur umum yang secara khusus disiapkan huda untuk menjamu tamunya tersebut kewalahan. Sekitar pukul 21.00, Solikah, coordinator dapur umum pun angkat tangan. Miyadi, keua tim pemenangan Hudanoor pun mengambil alih. Dia memanggil lima rombong yang menjual nasi goring dan mie. Pedagang kaki lima (PKL) inilah yang sementara waktu mengambilalih dapur umum untuk urusan makan simpatisan dan pendukung. Sebenarnya, hari itu, dapur umum yang menempati halaman belakang rumah Huda memasak dalam jumlah banyak. Namun, karena massa kelewat banyak, dapur umum ini tak ngatasi. Untuk menjamu masyarakat yang ingin bertemu dan mengucapkan selamat pasca pemungutan suara Selasa (1/3) lalu, Huda meminta dapur umum tak boleh main-main. Untuk memasak dalam jumlah banyak, disiapkan dua perapian besar yang terus menyala. Perapian ini baru mati di atas pukul 20.00. peralatan memasak dapur umum ini juga serba jumbo. Dandang untuk memasak nasi dan panci kuah masing-masing berkapasitas 10kg. Solikah mengatakan, untuk lauk, setiap hari dapur menyembelih satu ekor sapi. “Sampai hari ke empat ini, sudah tiga sapi yang disembelih,” kata wanita berusia 45 tahun ini.
Beras yang dimasak dapur umum ini sedikitnya 1 kuintal per hari. Untuk memasak satu ekor sapi, setiap hari bagian dapur berbelanja bumbu dalam jumlah banyak. Dalam daftar belanja yang disodorkan salah satu pemasak tertulis lomboknya saja sekitar 4kg. bumbu lainnya, bawang putih 1 kg, bawang merah 3kg, kemiri 1kg, dan ketumbar 0,5kg.
Biar tamu tidak bosan, Solikah sudah menjadwalkan menunya. Hari pertama, Rabu (2/3) becek (masakan sejenis gule khas Tuban) sapi. Hari berikutnya, sop daging dan krengsengan. “Sekarang, balik lagi ke becek,” kata dia dengan terkekeh-kekeh.
Untuk memasak dalam jumlah besar dan dalam waktu yang secara cepat, Solikah dibantu Sembilan pemasak. Para pemasak ini hanya istirahat di atas jam 22.00 setelah semua bahan habis dimasak. “Kita sama sekali tidak capek karena bersemangat Hudanoor menang.” Kata Solikah yang diamini pemasak lainnya.
Selain juru masak di dapur umum, masih ada sepuluh wanita yang beraktivitas di sebuah ruangan untuk menyiapkan hidangan. Peran mereka tak kalah pentingnya dalam meracik nasi dan lauk di piring sebelum disajikan kepada tamu. Masuk dalam kru penyaji ini, tukang cuci peralatan dapur.
Ny. Mundzir, koordinator bagian penyaji mengatakan, kru bagian penyaji seluruhnya dari jamaah pengajian Assaadah yang dipimpin Huda. “Karena beraktivitas hingga malam, kami digilir bergantian,” tandas dia.(*wid)
Sumber : RADAR BOJONEGORO
6 Maret 2011

| | Read More »

Chamim Akui Kemenangan Hudanoor


TUBAN – Satu per satu kontestan Pilkada 2011 menyampaikan sikap fair play atas kemenangan telak pasangan Fathul Huda dan Noor Nahar Hussein (Hudanoor). Kemarin (5/3), cabup dari jalur independen M. Chamim Amir menyampaikan pernyataan sikapnya atas kemenangan pasangan bernomor urut empat tersebut. “Terlepas dari prosesnya, saya mengakui kemenangannya (Hudanoor),” kata dia saat dikonfirmasi wartawan Koran ini melalui ponselnya.
Chamim Amir adalah kontestan Pilkada kedelapan yang menyampaikan pernyataan sikap terkait kemenangan Hudanoor berdasar penghitungan sementara. Sebelumnya, sikap yang sama disampaikan pasangan Bambang Lukmantono – Edi Toyibi (Bangkit). M. Anwar – Tulus Setyo Utomo (Mulyo), dan Setiadjit – Bambang Suhariyanto (Sehat). Juga, Ashadi Suprapto, cawabup pasangan Chamim Amir.
Chamim menegaskan, dirinya baru mengucapkan selamat kepada Hudanoor setelah penetapan KPUK Tuban. Ditanya kemungkinan melakukan upaya hokum atas kekalahan dirinya dalam pesta demokrasi tersebut, cabup bernomor urut satu ini memastikan tidak. “Buang energi saja,” tandas dia yang berharap pasangan calon terpilih untuk tetap menjaga amanah rakyat.
Direktur CV Daya Pribumi ini lebih lanjut mengatakan, dirinya yang berada di luar birokrasi tetap akan beraktivitas advokasi dan pelayanan terhadap masyarakat.
Diberitakan sebelumnya, Bangkit mendahului pasangan calon lain datang ke rumah Huda dan Noor Nahar untuk menyampaiakn selamat. Sikap fair play tersebut kemudian diikuti pasangan Mulyo dan cawabup Bambang Suhariyanto. Meski belum datang ke rumah huda dan Noor Nahar, cabup Setiadjit dan cawabup Ahadi Suprapto sudah menyampaikan sikapnya kepada wartawan Koran ini. Selain mengakui kemenangan Hudanoor, seluruh pasangan calon tersebut menyatakan tidak akan melakukan upaya hukum ke Mahkamah Konstitusi (MK).
Sampai berita ini diturunkan sekitar pukul 19.00, hanya pasangan Kristiawan – Haeny Relawati Rini Widiastuti (Krishaeny) yang belum menyampaikan sikap legawanya. Pernyataan Kristiawan terkait hasil pilkada pun masih mengambang. (ds/wid)
sumber : Radar Bojonegoro
6 Maret 2011

| | Read More »

Lagi, Nadzar Jalan Kaki ke Tuban

TUBAN – Nadzar kemenangan pasangan Hudanoor terus dilakukan oleh simpatisannya. Kemarin, empat warga Dusun Karangcandi Desa Bulujowo Kecamatan Bancar melakukan nadzar dengan jalan kaki dari Bulu hingga Tuban. Mereka adalah Nur Muslimin, 32; Darham,53; Darmin;46; dan Ramelan, 62.
“Ini nadzar karena Hudanoor menang,” kata Nur Muslimin saat ditemui Radar Bojonegoro di Desa/Kecamatan jenu kemarin (4/3) sekitar pukul 16.00.
Dia bersama tiga temannya berangkat dari Bulu sekitar pukul 05.00. dengan berbekal makanan dan minuman, keempatwarga itu berjalan menyusuri jalur pantura dengan mengenakan alas kaki dan tongkat sebagai pegangan.
Mereka mengaku, sebagai pegangan.
Mereka mengaku, perjalanan dari Bulu-Tuban sudah berhenti empat kali untuk menunaikan salat dan istirahat sebentar. Dua tempat di Kecamatan Jenu. Sesampai di Tuban mereka akan langsung bersilaturahmi ke rumah pasangan Hudanoor.
Mereka mengikuti jejak Sunari, salah satu pendukung Hudanoor asal Desa Sukoharjo Kecamatan Bancar yang Rabu lalu juga melakukan nadzar jalan kaki ke Tuban untuk merayakan kemenangan pasangan nomor 4 tersebut (zak/wid)
Sumber : dikutip dari RADAR BOJONEGORO
Sabtu, 5 Maret 2011

| | Read More »

Setiadjit Akui Legawa


Anggap Pilkada Berjalan Baik
TUBAN – Setiadjit, calon bupati yang di usung dari koalisi Partai Demokrat, PAN, PKS, PKNU dan Patriot mengaku legawa dengan hasil Pilkada yang dimenangkan pasangan Hudanoor.
“Kalau saya tentu menyampaikan selamat. Beliau memang sudah bagus, bisa menang. Dan saya legawa, nggak ada apa-apa,” tegas Setiadjit ketika dihubungi via ponselnya, kemarin (4/3). Dikatakan dia, proses demokrasi di Tuban sudah berjalan dengan baik. Disinggung tentang kemungkinan ada yang membawa kasus Pilkada ke Mahkamah Konstitusi (MK), Setiadjit tak berkomentar banyak. Namun, yang pasti secara pribadi dirinya tidak akan membawa masalah Pilkada ke MK. “Kalau secara pribadi saya nggak usahlah,” paparnya.
Setiadjit menambahkan, dalam waktu dekat dirinya akan segera silaturahmi ke pasangan Hudanoor untuk menyampaikan ucapan selamat. Sebelumny, cawabup Bambang Suhariyanto juga sudah menyampaikan ucapan selamat kepada pasangan Hudanoor.
Terpisah, ketua DPC PDIP Tuban. Karjo juga mengakui keunggulan hudanoor. Hasil penghitungan tim DPC PDIP, pasangan nomor 4 memang melejit memperoleh suara terbanyak. “Jadi kami mengakui perolehan suara pasangan Hudanoor,” tuturnya.
Sementara itu, cawabup psangan Kristiawan, Haeny Relawati belum bisa dikonfirmasi. Bupati Tuban periode 2006-2011 ini belum bisa ditemui. Wartawan Koran ini sudah berusaha menemui istri pengusaha Ali Hasan tersebut melalui ajudannya namun belum bisa. “Mohon maaf, ibu belum bisa menerima tamu,” ujar Arman, ajudan bupati Haeny via pesan pendek yang dikirim kepada wartawan Koran ini. (zak/wid)
Sumber : dikutip dari RADAR BOJONEGORO
Sabtu, 5 Maret 2011

| | Read More »

Bambang Mengaku Ditawari Tiga Posisi

FATHUL HUDA, cabup yang mengantongi suara terbanyak pada Pilkada Tuban 2011 langsung merespon lamaran Bambang Suhariyanto, cawabup pasangan Setiadjit yang ingin menjadi staf ahli bupati bidang kesehatan. Respon tersebut disampaikan Huda saat menemui Bambang yang bersilaturrahmi dan menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan Pilkada 2011 pada kamis (3/3) malam lalu.

Apa respon cabup bernomor urut empat tersebut? Bambang saat berjalan meninggalkan rumah Huda di Jalan Teuku Umar II/51 mengatakan, dirinya ditawari tiga posisi yang seluruhnya sesuai dengan bidangnya. Pertama, Direktur RSUD dr. R.Koesma Tuban. Dikatakan dia, posisi tersebut bisa dijabat dirinya yang sudah pension dari PNS. Sebab sekarang ini, perundangan mengamanahkan seluruh RSUD harus berubah status menjadi badan layanan umum (BLU), “Dengan status tersebut, direkturnya tidak harus PNS yang masih aktif,” tandas mantan Direktur RSUD dr R.Koesma Tuban ini.
Posisi kedua yang ditawarkan adalah staf ahli bidang kesehatan. Posisi non struktural dalam birokrasi pemerintahan tersebut bisa dipercayakan kepada siapapun yang memiliki kapabilitas di bidangnya. Untuk posisi ketiga yang ditawarkan, cawabup bernomor urut lima ini tak langsung menjawab. Bambang sempat bertahan untuk tidak membuka posisi tersebut. Namun, setelah berkali-kali didesak, diapun keceplosan, “Kepala dinas kesehatan,” tegas dia sambil tersenyum tipis.
Dari tiga posisi yang ditawarkan, mana yang akan dipilih? Pria yang juga dokter ini menegaskan, dirinya tidak akan menjatuhkan pilihan. “Terserah beliau, di posisi mana saya dipercaya,” tegas Bambang.
Dikatakan Bambang kalau dipercaya mendampingi, dirinya akan berusaha mewujudkan obsesi Huda untuk mengabdi kepada rakyat. Salah satunya mewujudkan program layanan kesehatan gratis untuk warga kurang mampu di puskesmas dan ruang kelas III RSUD. Bambang mengatakan, untuk bisa mewujudkan harapan tersebut yang terpenting adalah informasi birokrasi.
Sementara itu, selama bersilaturrahmi, Bambang yang tidak didampingi Setiadjit ditemui anggota tim pemenangan Hudanoor. Setelah silaturrahmi, Jum’at (4/3) pagi. Huda dan Bambang pun melanjutkan pertemuan di lapangan untuk bermain tenis. Keduanya seperti tidak ada sekat, meski sebelumnya terlihat rivalitas dalam pencalonan. Begitu akrabnya, Huda pun memanggil Bambang dengan panggilan wabup. Ditanya tiga posisi yang ditawarkan, Huda hanya tersenyum. “Tanyakan Pak Bambang saja. Dia siap menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk Tuban ke depan,” tandas dia (ds/wid)
Sumber : dikutip dari RADAR BOJONEGORO
Sabtu, 5 Maret 2011
foto : kotatuban.com

| | Read More »